Rabu, 30 April 2014

Krisis Pangan Halal di Dunia

Krisis Pangan Halal di Dunia - Sekarang ini dunia mengalami krisis pangan halal. Umat muslim di dunia merasakan kekurangan pasokan pangan halal. Ini dikarenakan produksi pertanian tidak dapat mencukupi kebutuhan dunia.

Konferensi Halal Dunia (WHC) Mengangkat tema ‘Keamanan Pangan Global – Perspektif Halal’, acara ini menghasilkan resolusi untuk mengembangkan industri halal lebih jauh.

Salah satu topik yang menjadi sorotan adalah kebutuhan mengisi 80% celah pasokan makanan halal. Para peserta yang terdiri dari pakar dan pemain industri halal sepakat bahwa usaha gabungan untuk mengatasi masalah ini harus dilakukan agar industri halal global terus bertumbuh dan berkelanjutan.

 

Selama konferensi dua hari ini, ketidakcukupan dan fragmentasi rantai pasokan makanan halal menjadi sorotan. Inilah penyebab utama tidak dikirimkannya makanan dan produk nonpangan halal ke pasar halal global yang sedang berkembang.

“Kalau sudah begini, banyak negara akan mengalami kekurangan pasokan pangan, terutama negara-negara dunia ketiga dengan populasi muslim besar,” ujar CEO Halal Industry Development Corporation Datuk Seri Jamil Bidin, seperti ditulis situs Halal Focus (12/04/2014).
Menurut Jamil, dalam beberapa tahun ke depan, akan ada peningkatan permintaan makanan sebesar 70-100%. Selain itu diprediksi juga akan ada ketidaksesuaian antara kemampuan produksi pertanian dan permintaan global.

Jamil berpendapat, tak hanya negara-negara muslim yang akan merasakan dampak menurunnya pasokan halal, tapi juga negara-negara nonmuslim.

Pasar halal global didukung 1,8 triliun muslim. Namun, negara yang terlibat dalam produksi makanan halal dan ekspor hanya sedikit. Merekapun hanya menyumbang 20% dari total produksi pangan.

Beruntung sekali Indonesia merupakan negara yang subur makmur. Apa pun tanaman yang di tanam akan hidup, sehingga kita tidak merasakan Krisis Pangan Halal di Dunia . Namun kondisi ini pun semakin lama semakin terasa di Indonesia menginngat pasokan bahan pokok kita seperti beras, kedelai dan jagung masih tergantung dari import.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar